Breaking News

Abai Bertahun-tahun, Dua Pemuda Sa’dan Ulusalu Kecam Kinerja Pemkab Toraja Utara dan Sikap Antikritik Anggota Dewan

28
×

Abai Bertahun-tahun, Dua Pemuda Sa’dan Ulusalu Kecam Kinerja Pemkab Toraja Utara dan Sikap Antikritik Anggota Dewan

Share this article

Sulawesi Selatan– Kondisi infrastruktur di pelosok wilayah kembali menjadi sorotan tajam. Akses jalan utama yang menghubungkan empat lembang di Kecamatan Sa’dan hingga kini masih dalam kondisi memprihatinkan, bahkan disebut warga menyerupai deretan “kolam ikan” akibat kerusakan yang tak kunjung diperbaiki.

Kritik keras datang dari dua tokoh pemuda setempat, dan , yang menilai Pemerintah Kabupaten Toraja Utara terkesan abai dan menutup mata terhadap persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut.


Janji Manis Berujung Polemik

Persoalan ini sebelumnya sempat mencuat saat Gian Anugrah menyampaikan tuntutan perbaikan infrastruktur. Bupati Toraja Utara kala itu merespons dengan mengarahkan koordinasi kepada pimpinan DPRD, , yang disebut telah mengusulkan perbaikan melalui dana aspirasi serta proposal ke Kementerian PUPR untuk tahun anggaran 2027.

Namun, alih-alih mendapatkan kepastian, Gian mengaku justru menerima respons yang tidak pantas saat kembali menanyakan progres tersebut.

“Sangat disayangkan, saat saya menanyakan progres koordinasi sesuai arahan Bupati, oknum Dewan tersebut malah menyerang secara pribadi. Bahkan mempertanyakan latar belakang keluarga hingga pilihan politik, serta mengancam akan mengalihkan anggaran,” ungkap Gian.

Ia menilai sikap tersebut mencerminkan kemunduran etika kepemimpinan.

“Seharusnya wakil rakyat menjadi jembatan aspirasi, bukan menunjukkan arogansi dan menyerang rakyatnya secara personal,” tegasnya.


Pajak Dibayar, Jalan Terabaikan

Senada dengan itu, Sugiarto turut menyoroti ketimpangan antara kewajiban masyarakat dan hak dasar yang tidak terpenuhi, khususnya di wilayah Lembang Sa’dan Ballo Pasange, Likulambe, Pesondongan, dan Ulusalu.

“Ini jalan raya, bukan kolam ikan. Ironis, pajak terus dipungut, tapi jalan sebagai urat nadi ekonomi dibiarkan rusak parah dan membahayakan,” ujarnya.

Ia juga mendorong masyarakat untuk bersatu menyuarakan tuntutan kepada pemerintah daerah serta tidak segan memanfaatkan media sosial sebagai sarana kontrol publik.

“Jika pemegang kebijakan tidak mampu bekerja dan bersuara, maka rakyat akan mengambil peran melalui tekanan publik,” tambahnya.


Urat Nadi Ekonomi yang Terhambat

Kerusakan jalan di wilayah Sa’dan Ulusalu tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga menghambat akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga distribusi hasil pertanian masyarakat.

Warga kini menuntut langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Toraja Utara, bukan sekadar janji administratif yang realisasinya terus bergeser ke tahun-tahun mendatang.

Masyarakat menunggu bukti, bukan janji.